Kisah-kisah Luka Kaum Feminis

Bukan Permaisuri Ni Komang Ariani

Ketika perempuan memilih terkungkung dalam penjara patriarki

Ibarat sebuah mata air, dunia perempuan tiada henti-hentinya mengalirkan inspirasi bagi para penulis sastra untuk mencipta sebuah karya. Lemahnya posisi wanita di bawah payung sistem patriarki selalu menjadi persoalan yang tak pernah kering untuk diperbincangkan. Penulis wanita tak pernah lepas dari gugatan feminisme yang dilayangkannya dalam setiap karya sastranya. Itu pula yang terjadi pada Ni Komang Ariani.

Dalam kumpulan cerpen bertajuk Bukan Permaisuri, segala keluh kesah Ariani terhadap nasib perempuan mendominasi tubuh-tubuh karyanya. Perempuan-perempuan dalam dunia Ariani menjelma sebagai kaum yang termarjinalkan, sosok yang teraniaya dan tidak diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Inilah luka-luka feminis yang kerap terjadi dalam realita masyarakat kita. Ada pun pendeskripsian karakter-karakter wanita rekaan Ariani tanpa disadari begitu dekat dengan relung-relung kehidupan kita.

Bukan Permaisuri memuat 16 cerita pendek yang ditulis Ariani dalam rentang waktu 2008-2012. Beberapa telah tersebar di berbagai media, namun ada pula beberapa materi yang masih hangat dan belum pernah dipublikasikan. Ide-idenya tentang kaum feminis yang luka dapat ditemukan dalam Perempuan yang Tergila-gila Pada Idenya, SPG yang Berjualan dengan Bayinya, Nyoman Rindi, Mirna Seorang Ibu yang Malang, Istri, Bu Raras Melangkah Pergi, Kutuk Perempuan, Mak, Sari dan Aryo serta Bukan Permaisuri. Setiap cerita hadir dengan keunikan tersendiri dalam meletupkan kegelisahan jiwa perempuan. Ada semacam kegetiran, perjuangan, obsesi, ketidakberdayaan, kehampaan hingga impian yang terombang-ambing.

Semisal, Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara begitu kuat dalam mengisahkan kelemahan perempuan dalam sistem patriarki. Di sini, sosok perempuan seolah ditakdirkan untuk tidak memiliki hak suara dalam memilih jalan hidupnya. Ia harus menimbun pelan-pelan impian mulianya dan kembali terkungkung dalam pekerjaan domestik rumah tangga. Tragisnya lagi, ia harus menerima cinta pilihan orang tua. Begitu pula dengan cerita Nyoman Rindi serta Kutuk Perempuan yang tiada henti-hentinya mengisyaratkan kedukaan hati wanita, di mana terbelit oleh diskriminasi dan kekakuan tradisi.

Lakon-lakon perempuan yang ditulis Ariani bukanlah tipikal yang kolot. Mereka punya pemikiran-pemikiran yang liar, namun tiada keberanian untuk menyuarakannya. Selain itu, atmosfer gaya hidup urban juga sangat kentara dalam membungkus pemikiran-pemikiran perempuan rekaan Ariani. Tak hanya seputar perempuan, Ariani juga menyinggung persoalan sosial yang melibatkan anak-anak di dalamnya. Seperti, Mimpi Bocah yang Terbang Ke Langit atau pun Anak-anak yang Tumbuh dengan Sendirinya.

Ariani memilih gaya bertutur yang lebih sederhana dalam cerita-cerita rekaannya. Ia kerap membatin dalam bercerita, sehingga perspektif personal yang ia tuangkan pun dengan mudahnya terbaca. Jika Anda mencari karya sastra yang penuh dengan kandungan metafora dan kemewahan diksi, maka karya Ariani bukan jawabannya. Cerita-ceritanya enggan untuk berakrobat kata-kata, malah cenderung lebih menawarkan balutan plot yang realistis dan sederhana.

==============================================

Judul Buku          : Bukan Permaisuri

Penulis                 : Ni Komang Ariani

Genre                   : Non Fiksi

Penerbit              : Penerbit Buku Kompas

Tahun rilis           : 2012