Jejak-jejak Jelajah Gizi 2 di Tanah Pari

Pulau Pari

Desir angin di perairan Laut Jawa sedang kalem-kalemnya. Terlebih gelombang laut yang tak banyak bermain guncang. Mentari yang memanjat ke atas memang tampak meresahkan, namun toh lebih masuk akal tinimbang disapu mendung yang kemudian hujan. Alam ternyata bersahabat dengan seluruh peserta Jelajah Gizi 2. Tak lebih dari satu jam perjalanan, speedboat bertuliskan “Pulau Bidadari” yang berkapasitas sekitar 50 orang tersebut tiba di pulau eksplorasi pertama jelajah Gizi 2 di gugusan Kepulauan Seribu.

“Kita sudah sampai di Pulau Pari, selamat datang”, seruan itu sayup-sayup muncul di tengah letupan  antusias para peserta blogger Jelajah Gizi, awak media serta tim Sari Husada. Dari dermaga tempat kami berlabuh, Pulau Pari belum terlihat mengeluarkan tampilan eksotisme magisnya. Pulau ini memang seolah ingin minta untuk ditelusuri lebih lanjut. Rasa penasaran kami pun makin mendidih. Berbekal sepeda, seluruh peserta Jelajah Gizi 2 pun memulai aktivitas jelajah di Pulau Pari. Sepeda bisa jadi satu-satunya kendaraan paling praktis bagi para wisatawan yang ingin mengelilingi Pulau Pari.

dok.nutrisiuntukbangsa : "bersepeda di Pulau Pari"

Sebagai salah satu kelurahan di kecamatan Kepulauan Seribu Selatan Kabupaten Kepulauan Seribu Provinsi DKI Jakarta ini, Pulau Pari memiliki luas wilayah 94 Ha serta dengan jumlah penduduk mencapai kurang lebih 680 jiwa. Atmosfer eksotis Pulau Pari makin terasa ketika kami memasukinya lebih dalam. “Kriingg..kringg…gowes..gowes…”, kayuhan sepeda kami pun disambut oleh pepohonan nyiur nan rindang serta deretan pemukiman warga yang tertata rapi. Kendaraan bermotor sangat minim di sini. Maka tak heran, pulau ini seolah dikepung oleh udara sejuk nan bebas polusi. Hijau alam dan aroma laut adalah kombinasi seksi yang ditawarkan pulau yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan ini.

Surga Rumput Laut

dok.pribadi: "rumput laut jenis Eucheuma Cotonii"

Bukannya tanpa tujuan. Sepeda-sepeda kami pun terhenti di gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Oseanografi Pulau Pari. Di sana, kami menemui Nurhayat, Ketua RW sekaligus Ketua Kelompok Nelayan Parikarya. Dari pria paruh baya berusia 50 tahun tersebut, para peserta Jelajah Gizi belajar banyak tentang cara pembudidayaan rumput laut di Pulau Pari yang telah lama ada sejak tahun 1970.

Di Pulau Pari sendiri, terdapat 200 petani rumput laut, namun tidak semuanya selalu eksis. Ini lantaran beberapa dari mereka melirik industry pariwisata tinimbang mengurusi rumput lautnya sendiri. Selain itu, sampah-sampah kiriman dari Jakarta yang terdampar di Pulau Pari serta pencemaran limbah juga menjadi ancaman serius bagi kuantitas dan kualitas rumput laut di sini. Dan memang benar, kita jumpai banyak sampah plastik, styrofoam, hingga kardus terdampar di beberapa titik pesisir Pulau Pari.

Demonstrasi Nurhayat pun dilakukan dengan begitu informatif dan komunikatif. Beliau mengambil beberapa batang pucuk rumput laut jenis jenis Eucheuma Cotonii muda, kemudian mengikatnya satu per satu pada untaian tali tambang yang bercabang. “Tidak perlu kuat-kuat, cukup ikat kayak tali wongso, Itu loh seperti simpul terbuka” jelasnya di hadapan para peserta Jelajah Gizi 2.Beberapa bloger dan awak media pun turut serta mempraktekan cara mengikat rumput laut tersebut dengan ekspresi yang sumringah. Saya pun sempat mencobanya, ternyata tidak terlalu sulit.

dok.pribadi: 'Nurhayat sedang mendemostrasikan cara pembudidayaan rumput laut"

dok.pribadi: "peserta jelajah gizi tengah mengikat bibit rumput laut di atas tali tambang"

 

dok.pribadi: "ke tepian laut, membenamkan bibit rumput laut"

dok.pribadi: "sampah adalah musuh rumput laut dan Pulau Pari"

Usai tali tambang yang panjangnya lima meter tersebut dipenuhi pucuk-pucuk rumput laut, enam relawan dari blogger dan awak media pun membawanya ke area tepian laut. Diantar oleh dua buah sampan, mereka pun membenamkan bibit-bibit itu di atas laut dengan ketinggian 5 meter. Menurut Nurhayat,  bibit-bibit rumput laut yang telah dibenamkan tersebut akan berkembang lagi dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan. Bahkan jumlahnya akan berlipat ganda misalnya yang tadinya hanya 50 gram bibit bisa menuai lebih dari dua kali lipatnya. Nurhayat biasanya memerlukan minimal 10 kg bibit demi mendapatkan hasil panen yang melimpah.

Dalam waktu kurang lebih dua bulan, mereka sudah bisa memanen sebanyak satu ton rumput laut di satu lokasi budidaya. Rumput laut-rumput laut yang telah dipanen tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai bibit atau pun diolah sebagai makanan. Jika ingin dimanfaatkan sebagai bibit, maka rumput laut tersebut dibiarkan dalam keadaan basah. Namun jika ingin diolah, maka rumput laut harus direndam dan dikeringkan terlebih dahulu.

dok.pribadi: 'mengeringkan rumput laut"

dok.pribadi 'rumput laut yang benar-benar sudah kering warnanya putih"

 

dok.pribadi: "dodol rumput laut"

Tak jauh dari LIPI, peserta Jelajah Gizi pun mengayuh kembali sepeda mereka untuk menyaksikan secara langsung lokasi pengeringan rumput laut di Pulau Pari. Ternyata rumput laut-rumput laut yang semulanya berwarna hijau tersebut, ketika dikeringkan warnanya pun berubah menjadi putih. Uniknya sebelum dikeringkan, rumput laut-rumput laut tersebut direndam terlebih dahulu selama dua hari untuk mengurangi kadar garamnya. Barulah kemudian dikeringkan lagi dalam kurun waktu tiga hari, itu pun tergantung dari intensitas paparan cahaya matahari. Ahmad Fadillah, salah satu petani rumput laut dari Kelompok Petani Parilestari mengaku mengeringkan rumput laut paling banyak tiga ton tergantung dari hasil panennya.

Penduduk Pulau Pari begitu kreatif dalam mengolah rumput laut untuk dijadikan pangan. Kami sempat mencicipi dodol serta es rumput laut segar racikan mereka. Selain itu ada pula agar-agar dan asinan rumput laut yang cukup digemari di daerah ini. Prof Ahmad Sulaeman, seorang pakar gizi dan pangan dari Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (FEMA-IPB) yang juga ikut dalam rombongan Jelajah Gizi 2 menginformasikan tentang betapa hebatnya khasiat dari serat-serat rumput laut bagi kesehatan kita, beberapanya seperti membantu pencernaan, baik untuk diet dan kulit hingga mengandung banyak vitamin penting untuk tubuh.

Mengagumi Perawan

Tak hanya surga rumput laut, tapi Pulau Pari juga menyimpan pesona “perawan”nya yang aduhai. Perawan itu ialah Pantai Pasir Perawan. Butuh waktu tak lebih dari lima menit bagi para peserta Jelajah Gizi untuk mencapainya. Disambut oleh papan kayu bertuliskan “Mari Kerjasama, Menjaga Keperawanan di Pasir Perawan”, sontak menyembulkan tawa senyum diantara peserta.

dok.pribadi "selamat datang di pantai pasir perawan"

Cahaya mentari langsung yang memantul di atas pasir putih Pasir Perawan sungguh membingkai eksotisme pesisir yang memabukan. Nyiur pantai yang meneduhkan serta pemandangan bakau-bakau yang mencuri perhatian. Biru laut pun merayu seolah minta untuk diselami. Tak heran bila kawasan ini sangat ideal untuk snorkeling serta diving. Astawan, selaku Lurah Pulau Pari mengatakan kalau terdapat dua jasa snorkeling dan satu diving di pantai yang baru resmi ‘go public for tourism’ pada 2010 silam itu. “Di sini bisa menikmati aktivitas diving dengan kedalaman 30 meter” jelasnya.

dok.pribadi: 'pesona pantai pasir perawan"

dok.pribadi: 'pesona pantai pasir perawan"

dok.pribadi: 'pesona pantai pasir perawan"

Semenjak menjadi obyek wisata andalan Pulau Pari, Pantai Pasir Perawan ini pun menemukan pengunjungnya sendiri. Bahkan pernah mencapai 500 pengunjung dalam sebulan. Rumah-rumah warga pun dimanfaatkan sebagai homestay.Namun, apabila kunjungan melebihi kapasitas homestay yang ada, maka pendirian tenda khusus pun menjadi salah satu jalan keluar. “Biasanya dalam satu paket travel, mereka datang bersama rombongan minimal 10 orang, dimana biasanya akan menginap hanya 1 malam saja. Per kepala bisa dikenai biaya Rp 400.000” papar Astawan. Saat ini, pariwisata Pantai Pasir Perawan masih berbenah dalam hal infrastruktur, pelayanan dan SDM. “Di sini kendalanya ialah masih kurangnya pembinaan guide, pendamping untuk snorkeling serta penerima tamu” pungkasnya.

Tak ada yang tahu pasti asal muasal nama Pantai Pasir Perawan. Namun seorang warga setempat bercerita konon dahulu pernah ada anak perempuan (yang masih perawan) diculik oleh segerombolan gagak hitam di pantai tersebut dan dibawa terbang entah kemana. Kejadian itu pun terjadi sekitar tahun 50’an, dimana disaksikan sendiri oleh orang tua si anak perempuan tersebut. Anak perempuan tersebut tak kunjung ditemukan. Atas kejadian tersebut, pantai itu pun dinamakan Pasir Perawan untuk mengenang kepergian sang gadis perawan tersebut.

dok.pribadi: "keceriaan para blogger Jelajah Gizi 2"

Di Pantai Pasir Perawan, para peserta Jelajah Gizi 2 masih melanjutkan keseruannya. Ada Prof. Ahmad yang membagi wawasan gizinya tentang ikan dan rumput laut di hadapan para ibu PKK setempat serta Chef Opik, salah satu jebolan program Master Chef juga turut membagi resep masakan seafood-nya dalam demonstrasi yang memukau. Sisanya, kegiatan merekam keindahan Pasir Perawan dalam bentuk jepretan digital pun tak luput dari para peserta. Dan jejak-jejak eksplorasi Pari pun berakhir di antara pasir putih Perawan. Sementara pulau-pulau lainnya di gugusan Kepulauan Seribu pun tengah menanti.