Antologi Kisah Trauma 1965

Putu Oka Sukanta  Tak Kan Melupakanmu

Mereka yang tak pernah bisa lari dari kenangan pilu 65.

Tragedi kemanusiaan 65 masih menjadi teror yang mendarah daging di dalam sendi-sendi kehidupan para korbannya. Sebuah luka sejarah diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Seolah luka itu menjadi jejak yang sulit terhapus oleh badai peradaban sekalipun.

Korban-korbannya terpenjara oleh trauma. Mereka yang mencoba lari, namun kalah oleh kegetiran. Ada pula mereka yang memilih untuk bersahabat dengan kenangan. Berpura-pura terbiasa, meski kian tercekik langkahnya. Sebagai salah satu yang pernah merasakan dera kebiadaban era 1965, Putu Oka Sukanta justru menjadikan luka itu sebagai lautan inspirasi. Ia merekontruksi kembali kenangan tersebut ke dalam sebuah karya sastra dengan ragam ekspresi dan emosi yang tertanam dalam setiap lakon dan racikan plotnya.

Dalam sebuah antologi cerpen terbarunya, Tak ‘Kan Melupakanmu hadir untuk menelisik tentang dampak sosial yang timbul pasca tragedi ’65 tersebut. Lakon-lakon yang diciptakan Sukanta dalam setiap cerita mencoba untuk merefleksikan bagaimana cara pandang masyarakat Bali dalam menyikapi trauma akan peristiwa G30SPKI.  Ya, mereka menghadapi dengan cara yang berbeda. Ada yang bersembunyi dari rasa takut. Ada yang memelihara dendam hingga subur. Ada yang tertekan oleh bayang masa lalu. Ada pun yang memilih pasrah dan melanjutkan hidup dengan cara aman.

Dalam 15 cerita pendek yang dikompilasikan tersebut, Putu Oka Sukanta membubuhi nuansa realitas dan sedikit surealis terhadap beberapa kandungan kisahnya. Dengan mengandalkan permainan diksi, simbol, dan emosi lakon-lakonnya. Plot-plotnya hadir begitu manusiawi, di mana lebih cenderung menggarisbawahi dampak tragedi 65 lewat kondisi sosial dan pemikiran-pemikiran dari  para karakter ciptaannya. Nama-nama karakternya pun begitu membumi dengan tanah Bali.Memang tidak mudah mengikuti cara bertutur Sukanta. Lantaran plotnya dibanjiri oleh puitisasi metafora dan detil-detil cerita yang kompleks.

Diawali dengan cerita pendek Harumi yang memuat tentang lembaran baru dari hidup seorang korban. Ia menjadi manusia lain demi menimbun masa lalunya. Di sisi lain, si karakter tetap meneruskan pengabdiannya terhadap masyarakat, meski sejarah pahit telah merongrong hidupnya. Banyak kejutan yang muncul dari sudut pandang orang pertama dan kedua hingga permainan diksi yang menawan. Lain lagi dengan Kerbau Bertanduk Emas yang hadir dengan balutan latarbelakang budaya. Padahal esensinya sendiri mengandung sebuah dendam dan trauma akut terhadap peristiwa ’65.

Mata dan Pulang adalah judul-judul yang mengisyaratkan tentang dahsyatnya teror tragedi 65 menciptakan trauma psikologis tak berkesudahan. Siluet-siluet pahit masa lalu terus mengusik kehidupan para karakternya. Atmosfer mencekam juga diam-diam menyeruak pada cerpen berjudul Made Jepun, Surat Undangan, dan Rindu Terluka. Sementara Sunyi dan Tas riuh dengan balutan melankolia dan romantisme.

Meski bernafaskan fiksi, sejatinya antologi Tak ‘Kan Melupakanmu adalah pesan tersurat dari para korban 65 kepada Indonesia, bahwa sejarah kelam tersebut tak akan mudah lekang dari ingatan mereka.

 

Judul Buku          : Tak ‘Kan Melupakanmu

Penulis                 : Putu Oka Sukanta

Penerbit              : JAKER & Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan

Tahun rilis           : 2012