Gede Semara Richard, “Ciptakan Komposisi Selonding Baru di Usia Dini”

Gede Semara Richard

Kedua tangan Gede Semara Richard (8 tahun) lincah memainkan sebuah instrumen gamelan Selonding. Tanpa ragu ia memukul tiap daun nadanya. Seakan penguasaan teknik sudah di luar kepalanya. Menariknya, setiap ketukan yang dihasilkannya tersebut hadir secara alamiah.

Berbeda dengan anak-anak sebayanya yang baru mulai mempelajari musik gamelan, Semara di usia 6 tahun telah berhasil menciptakan empat komposisi baru dari musik gamelan Bali klasik, Selonding. “Tinju Cak”, “Puncak Ting”, “Pau Cak”, dan “Kungkarang” adalah sederet nama unik dari komposisi teranyarnya tersebut. Sambil tertawa, anak laki-laki yang mengenyam pendidikan di SD Mahardika tersebut mengatakan bahwa penamaan empat komposisi Selondingnya tersebut masing-masing terinspirasi dari segala hal di sekitarnya. “Puncak itu nama minimarket di dekat rumah saya. Kalau Ting itu, ya karena bunyinya ada Ting,” ungkapnya dengan tersipu malu, ketika ditanya makna dibalik nama “Puncak Ting”.

Ayahnya, Vaughan Hatch mengungkapkan bahwa komposisi Selonding yang diciptakan oleh Semara sesungguhnya adalah komposisi yang sederhana dan sarat dengan nuansa keceriaan anak-anak. “Sebenarnya kita kaget juga bahwa dia ternyata bisa bikin gubahan yang baru. Waktu itu ketika kita pentas ‘ngayah’ di Pura, tiba-tiba dia minta kita improve gamelan Selondingnya. Ia ngasik tahu gimana kalau gongnya dipukul kayak gini dan sebagainya,” tambah ibundanya, Putu Evie Suyadnyani .

Dalam komposisi Selonding ciptaan Semara, ia memasukan berbagai macam pengaruh dari komposisi gamelan yang disukainya, entah itu gending kuno hingga Beleganjur sekalipun. Ketika menciptakan komposisinya sendiri, Semara tidak pernah mencatat. Ia menggunakan insting bermusiknya yang alamiah tersebut. Ia tidak menghapal, tetapi lebih cenderung meresapi dan mengingatnya sendiri.

Semara mulai mengenal Selonding ketika berumur 5 tahun. Ia terinspirasi oleh permainan Selonding ayahnya bersama sebuah grup dari Yayasan Selonding. “Waktu itu saya minta Sammy merekam permainan grup tersebut dan setelah itu saya pergoki dia senang memutar hasil rekamannya. Lantas bersama Ayahnya, ia coba-coba mencari melodi musiknya dan lama-kelamaan Sammy menguasai komposisi Selonding yang rumit untuk anak seumurannya tersebut,” imbuh Evie.

Meski di umur 8 tahunnya kini, Semara belum lagi menciptakan komposisi yang baru. Tapi Vaughan melihat putra pertamanya tersebut mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada teknik bermusiknya. Tekniknya yang dulu masih plain, sekarang terdengar lebih berwarna dan tertata, apalagi didukung dengan tambahan instrumen baru. Tidak hanya itu, Semara juga terlihat kerap mengeksplor lagi komposisi lamanya dengan memberikan sedikit sentuhan atau aransemen baru.

Mendarah Daging

Gede Semara Richard

“Asik aja!” celetukan itu meluncur dari bibirnya ketika ditanya mengapa dirinya suka memainkan gamelan. Sejak berumur satu tahun empat bulan, Semara telah memberi tanda minat terhadap dunia seni. Bahkan semenjak masih di kandungan, Evie kerap memperdengarkan musik kepada Semara, entah itu yang bersifat tradisional Bali maupun western klasik. “Saya dan suami sadar bahwa memperdengarkan musik akan sangat baik untuk perkembangan Semara saat masih di janin. Apalagi memang lingkungan kami sangat kental dengan nuansa musik, sehingga tanpa sadar kami memperkenalkannya kepada Semara,” ungkap Evie. Setelah Semara lahir pada 3 April 2006 silam, Evie dan Vaughan tetap konsisten memutarkan musik gamelan sebagai lagu pengantar tidur ataupun penenang di kala Semara kecil merengek.

Evie dan Vaughan memang berprofesi sebagai seniman. Keduanya mengelola sebuah sanggar seni bernama Mekar Bhuana. Sanggar tersebut fokus dalam pelestarian dan rekonstruksi gamelan klasik Bali, seperti Semara Pegulingan, Semara Pelegongan, Gender Wayang, dan Selonding. Evie juga piawai menarikan tarian Bali klasik, salah satunya Legong. Dengan lingkungan yang sarat dengan atmosfer seni inilah yang secara tidak langsung menjadi pemantik untuk Semara bersentuhan dengan dunia seni. “Pas bangun tidur, gamelan sudah ada di depan kamarnya. Ia biasanya akan mengambil dan mencobanya. Saat berpergian dengan ayahnya pun, ia akan minta untuk disetel musik gamelan. Bahkan ia bisa mengidentifikasi sendiri musik gamelan yang ia ingin dengarkan tersebut,” ujar Evie.

Beranjak umur satu tahun , Sammy begitu panggilan sayang Evie kepada Semara memperlihatkan ketertarikannya terhadap seni tari. Segala jenis Tari Topeng, Tari Gopala, dan Tari Wirayuda dikuasainya. Vaughan mengungkapkan bahwa Semara sangat mudah terinspirasi dari hal-hal sekitar yang dilihatnya. Begitu pula perkenalannya dengan tarian. Semara kecil hanya menyaksikan VCD dan pementasan tari Bali di banjar atau Pura, kemudian ia mampu memperagakannya. “Dia lihat orang nari Rangda di banjar, lalu di rumah ia serius peragakan. Orang-orang di sekitar sampai heran, kenapa anak ini mau nari Rangda,” jelas Evie.

Vaughan yang berdarah New Zealand mengungkapkan bahwa Semara sendiri adalah tipe anak yang senang belajar dari apa yang ia simak dan terinspirasi. “Ia belajar nari dan gamelan itu secara otodidak. Ia menolak untuk diajarkan oleh guru. Meski ia terkesan tidak mau diajarkan, tetapi ia mau memperbaiki, apabila ada tekniknya yang kurang atau salah,” terangnya. Vaughan dan Evie kompak menegaskan bahwa dukungan orang tua, keluarga, dan lingkungan sangat penting dalam membentuk minat berkesenian Semara seperti sekarang. Bahkan Vaughan, Evie, bersama keluarga besarnya membuat sebuah Sekaa Selonding Semeton yang secara tidak langsung demi mendukung aktivitas berkesenian Semara.

Vaughan dan Evie juga enggan mendorong atau mengarahkan Semara untuk mengikuti ajang kompetisi seni. Bagi mereka kompetisi seni dewasa ini rentan membunuh perkembangan kreativitas anak, karena seorang anak acap kali dituntut untuk memenuhi standar para juri kompetisi bersangkutan. “Kalau sudah lomba, Semara enggak lagi jadi dirinya sendiri. Kemampuannya memang sudah alamiah dan punya ciri tersendiri serta tidak terpengaruh dari gaya atau pakem orang lain,” kata Evie. Pasangan yang berdomisili di bilangan Gandapura ini juga mengutarakan bahwa Semara sesungguhnya lebih senang berkompetisi secara diam-diam. Apabila dia melihat seorang anak yang menguasai tarian atau gamelan yang baru, dia akan berusaha untuk mempelajarinya agar tidak tertinggal.

Sebagai orang tua, Evie dan Vaughan hanya berharap ke depannya kakak kandung dari Kadek Prana Gita tersebut dapat selalu mengerjakan apa yang membuat ia bahagia. “Apapun pilihannya ke depan, itu pilihan dia. Entah itu mau terjun di bidang seni atau yang lain. Dulu sempat ia bilang ingin jadi dalang, tapi sekarang mau jadi pesebakbola kayak Messi katanya,” pungkas Vaughan sambil tersenyum.

 

(*ditulis untuk Majalah Sewaka Dharma, Pemkot Denpasar)