Hari Agung

Hari ini harus berhasil. Harus. Hampir lebih dari satu dekade ku nantikan momen semacam ini. Tak ku biarkan siapa pun menghalangi, tak terkecuali hujan yang jatuh sedari subuh tadi. Tinggal ku pastikan kode alam segera menghampiri, sebagai aba-aba untuk memulai momen ini secara sempurna.

Keyakinanku sudah bulat. Tidak perlu lagi ada pertimbangan baru ini itu. Segala ritual perenungan telah ku jalani. Kesunyian membantuku berpikir. Tiada keraguan sedikit pun menggelayuti. Maka dari itu, tidak ada alasan untuk tidak berhasil.

Sore itu, air hujan yang tadinya jatuh sederas air pancuran telah berganti gerimis melankolis. Aku yang berdiri di bawah pohon jepun kesayangan Niang menemukan kehangatannya. Ketika rintik-rintik kecilnya jatuh menimpa sekujur kulit, ada perasaan rindu yang turut mengalir. Masih terekam di ingatan, wajah Niang yang penuh sinar tatkala memetikan sekuntum jepun untuk si mungil, Anak Agung Putra Satya Ningrat. Waktu itu juga gerimis seperti ini.

Aku yang berusia 6 tahun kala itu kegirangan mendapatkan sekuntum jepun pemberian Niang. Apalagi, Niang menyelipkan jepun tersebut tepat di daun telinga sebelah kananku. Banggalah aku dibuatnya. Lantas ia membisikan sepatah kalimat juga di situ. “Suatu saat nanti kamu akan jadi lelaki Bali yang hebat seperti Ajik dan Gung Kak mu,”

Kata-kata itu masih terngiang hingga kini. Lelaki Bali yang hebat? Bagaimana aku bisa memikul harapan sebesar itu? Seandainya Niang masih hidup, pasti ia akan sangat kecewa mendapati cucu laki-laki satu-satunya menjadi seseorang yang berulangkali tertimpa kesialan. Niang selalu berpesan bahwa aku harus menjadi penerus keluarga Satya Ningrat yang paling disegani di lingkungan puri. Aku harus mampu membawa nama baik keluarga. Aku harus punya karir yang melesat di atas sepupu-sepupuku. Aku harus punya istri Bali berdarah biru. Aku harus selalu menang di segala kompetisi hidup. Aku harus menjadi nomor satu. Aku harus, aku harus, dan aku harus seperti keinginan Niang, Ajik, dan Gung Kak. Ketiganya benar-benar kompak mengarahkanku untuk memenuhi semua ekspektasi mereka, menjadi lencana kebanggaan mereka.

Angin Denpasar berhembus kencang. Menyambar pohon Jepun kesayangan Niang. Satu kuntumnya jatuh di atas kepalaku. Ku ambil Jepun itu. Masih muda ternyata. Bisa dilihat dari kelopaknya yang belum mekar sempurna. Setitik getah putihnya mengenai bekas luka bakar di jari manisku. Tidak membuat perih memang, tetapi baunya sangat unik. Bisa ku rasakan bau anyir yang tak seperti milik Pohon Jepun pada umumnya. Ku tengadahkan kepala ke atas, menatapi kawanan jepun lainnya. Aneh, kenapa hanya jepun ini saja yang jatuh? Padahal ada beberapa jepun yang sudah layu, tapi masih tegak tertancap di dahannya. Apakah jepun ini memang sengaja mencabut nyawanya?

Sungguh, aku rindu Niang. Aku tak pernah menyalahkan pengharapannya kepadaku. Wajar dia berekspekatasi begitu, karena hanya aku yang digariskan sebagai keturunan di keluarga Satya Ningrat. Pernah ku dengar salah seorang bibiku bergumam bahwa hanya Niang lah yang membukakan tangannya untuk kehadiran Ibu ku di keluarga ini di saat semua anggota keluarga besar Puri mencemoohnya. Niang lah yang membuat Ibu ku memiliki aura Anak Agung di dalam dirinya.

Ibu ku adalah seorang biasa yang menikahi pria berdarah tidak biasa. Ia pun bergelar Jero. Jadilah ia Jero Padma. Dasar lacurnya nasib Ibuku, Ia dipersunting oleh Ajiku sebagai istri kedua. Itu karena istri pertamanya Gung Biang Sekar tidak mampu memberikannya keturunan. Dihamilinya lah Ibuku, hingga di boyong ke Puri untuk menghadap Gung Kak dan Niang. Awalnya Gung Kak murka mendengar kenyataan bahwa ia memiliki cucu berdarah campuran. Darah Ibuku dianggapnya tidak layak bercampur dengan darah kasta tinggi Ajiku. Namun, berkat segala campur mulut Niang, Gung Kak pun berusaha secara lapang dada menerima Ibu.

Tidak hanya Gung Kak, Ibu tiriku Gung Biang Sekar juga ngamuk tak karuan dalam pertemuan keluarga puri tersebut. Ia tak terima dimadu. Kata seorang bibiku, mata Gung Biang Sekar yang dulu terkenal indah berubah angker layaknya makam. Seakan kehidupan alam semesta mati di telaga matanya. Hingga kini pun, aku bisa rasakan dendam kesumat Gung Biang Sekar masih terjaga di dalam kedua bola matanya itu. Meski Ibuku sendiri sudah 8 tahun lalu meninggal dunia akibat TBC. Tetapi sorot mata Gung Biang Sekar tetap saja menghantui seluruh langkahku. Ia akan membenciku dan Ibu di sepanjang hidupnya.

Niang selalu membelaku di setiap kesempatan dari segala cibiran dengki sepupu-sepupuku. Mantan penari legong kraton itu tahu benar cara mendidikku untuk menjadi seorang Anak Agung sejati. Ia memperkenalkan ku seni dan sastra. Bahkan ia mengajarkanku menari Baris dan membaca berlembar-lembar aksara lontar. Niang memang lebih senang menanamkan nilai-nilai luhur Bali dalam diriku. Tapi ia juga tak lupa mengingatkanku akan prinsip-prinsip seseorang yang terlahir dengan label kasta puri. Separuh masa mudaku dijalani dengan asupan-asupan gengsi darah biru. Aku pun awalnya tak menganggap itu berlebihan. Tetapi semenjak pertemuanku dengan Ni Luh Wulan Kesuma Wati, seluruh dinding pertahanan kasta dalam diriku runtuh.

Aku pernah mencintai perempuan biasa-biasa itu. Sampai sekarang pun masih. Tak bisa ku lupakan segala tutur mulia dan laku agungnya. Begitu pula kebesaran hati dan sikap ringan tangannya. Wulan benar-benar membiusku kala itu. Membuatku tertarik menelusuri segala kegiatan sosial yang digelutinya. Masih ku ingat pertemuan kami di salah satu sudut lusuh di Pasar Badung. Waktu itu, aku sedang berburu objek foto untuk project street photography independenku. Di sana, ku lihat ia sedang asik mengajarkan baca tulis kepada sembilan anak buruh suwun. Gagal segala dayaku untuk berpaling dari rasa kagum terhadapnya. Melebur diriku ke dalam dunianya yang begitu sederhana dan tanpa kemunafikan. Ia memberikan nyawa di setiap bidikan kameraku. Ia pun menuntunku menemukan wajah lain dari kota Denpasar. Wajah-wajah marjinal yang kerap dilupakan oleh wakil rakyat di atas.

Bagaimana mungkin aku bisa melupakan cinta itu, Wulan? Di malam penting ini pun, aku masih merelakan pikiranku bernostalgia dengan perasaan-perasaan indah bersamamu. Meski pun, pada akhirnya aku menikahi Gung Gek Pradnya, tapi hanya dirimulah yang berkalung di sukmaku. Di mata keluarga Satya Ningrat, tidak cukup cinta sejati dan kemuliaan hati untuk menyatukan kita. Mereka menuntut darah biru. Aku tak pernah sanggup memperjuangkan cinta kita. Pun memperjuangkan cita-citaku saja tidak becus. Aku benar-benar dirancang untuk mengabdi pada keluarga ini. Tak punya aku kekuatan lebih untuk mengikuti kata hati.

Niang sempat mengetahui dirimu, Wulan. Oleh karena itu, ia cepat sigap memperkenalkanku dengan Gung Gek Pradnya. Tanpa basa-basi kedua keluarga dipertemukan, hingga tidak ada celah bagiku untuk membawamu masuk ke dalam lingkaran puri ini. Kalau bukan karena hutang budi. Kalau bukan karena Ibuku yang bernasib Jero. Sudah pasti aku akan menjemput Wulan di rumahnya dan meninggalkan semua atribut pengekang ini. Tapi aku hanya lelaki yang tak bernyali. Kalau pun engkau mengutuk ku di mimpimu atas pembunuhan cinta, sudah pantas ku terima.

Di balik dahan-dahan pohon Jepun Niang, ku tangkap secercah sinah bulan penuh. Tak pernah ku lihat purnama sebenderang ini, seakan seluruh mendung dihabisinya dalam satu sorotan saja. Lima belas menit lagi, momen yang dinanti-nanti itu akan segera hadir. Aku dengar hari ini juga akan menjadi istimewa, karena bertepatan dengan gerhana bulan total. Dua hari yang lalu aku sempat membaca surat kabar yang menginformasikan bahwa gerhana bulan total malam ini sangat unik. Pasalnya gerhana bulan total ini akan berlangsung sangat singkat, kurang dari 5 menit. Menariknya lagi, gerhana semacam ini hanya terjadi setiap seratus tahun sekali. Aku anggap saja itu penyempurna untuk hari yang baik ini.

Tak ada siapa pun di Puri. Hanya kelengangan yang mengisi. Seluruh anggota keluarga tengah sibuk melayat ke rumah mertua salah satu bibi. Konon Gung Aji mertua nya mati lantaran penyakit tak wajar. Untunglah Niang matinya baik-baik saja. Malah ia masih tersenyum ketika menutup mata. Meskipun ia tahu aku tidak pernah bisa memiliki keturunan dari Gung Pradnya. Aku menangkap senyuman Niang itu sebagai ungkapan sarkasme, karena aku menyadari bahwa aku telah gagal sebagai penerus Satya Ningrat.

Namun sesungguhnya bukan itu yang benar-benar ku sesali. Aku tak pernah peduli jika Gung Biang Sekar tertawa atas kemalanganku ini. Pun ketika Ajik ku sendiri mengidupkan permusuhannya denganku gara-gara ini. Atau pun saat ku pergoki dengan mata kepalaku sendiri Gung Gek Pradnya, mantu idaman Niang itu tengah bercinta dengan sepupuku di ranjang kami. Itu belumlah luka yang teramat. Bahkan tak benar ku anggap sebagai sebuah luka. Justru yang ku sesali adalah tidak pernah punya nyali. Sesalku yang paling hakiki adalah meninggalkan Wulan begitu saja. Sesalku lainnya, yakni mengubur impian sebagai jurnalis foto. Semuanya lantaran ku tak punya nyali. Membiarkan darah biru ini menyetir seluruh dunia yang ingin ku lampaui.

Cukup sudah. Hari ini aku harus punya nyali. Malam inilah yang ku tunggu-tunggu hampir lebih dari satu dekade. Tengadah ku lagi ke atas langit. Separuh bulan penuh itu mulai dipenuhi oleh lingkaran hitam. Tapi itu tidak sepenuhnya hitam. Aku melihatnya justru seperti merah tua padam. Oh ya, aku teringat dengan cerita yang pernah didongengkan Niang setiap purnama tiba. Ia bilang tepat pada hari purnama, sekumpulan bidadari akan turun dari Kahyangan untuk sekadar bermain serta menebar benih-benih kasih ke seluruh pelosok Bumi. Jika beruntung, ia akan mencari salah satu jiwa murni terpilih untuk dijemput dan dibawa ke Kahyangan. Bukankah itu menarik jika bisa menjadi salah satu jiwa yang terpilih. Kata Niang, itu artinya kita merupakan salah satu jiwa kesayangan mereka dan alam semesta. Rasanya geli sendiri bila ku ingat dongeng dari Niang itu. Apa mungkin ya?

Waktu menunjukan pukul 21.00 WITA. Angin berdesir dengan ganasnya, mengacak-acak rambutku dan menakuti anjing-anjing tetangga. Listrik mendadak padam. Gerimis pun tak lagi datang. Sementara purnama telah ditutupi penuh oleh lingkaran yang tak kusangka warnanya semerah darah. Di situlah aku merasa yakin bahwa semua ini adalah kode semesta buat ku untuk memulai momen istimewa ini. Tanpa ragu aku pun ambil selendang tenun ikat pola Pegringsingan kesayangan Almarhum ibuku. Ku simpul selendang itu dengan bentuk tertentu. Kemudian, aku ikatkan di salah satu dahan tertinggi pohon jepun milik Niang. Saking tingginya, aku mesti mengambil sebuah kursi kayu usang yang kebetulan ada di halaman Puri. Sekali lagi, ku pastikan ikatan yang ku buat sudah sangat kencang.

Ada sebuah renungan singkat melucuti pikiranku di bawah pohon Jepun Niang. Aku memikirkan kembali dongeng Bidadari dan Bulan Purnama itu. Mungkinkah akan ada bidadari yang turun, sementara Purnama tertutup gerhana? Tak lama pikiran itu mencerabutku, lingkaran merah tua kelam itu mulai menjauhi wajah purnama. Bisa ku lihat cahaya terangnya secara perlahan. Pikirku, inilah waktu yang tepat untuk memulai prosesi dari momen istimewa itu. Kelak, apabila ada yang ingin menamai hari ini, ku harapkan ia membubuhi nama ku di belakangnya. Hari Harry, sepertinya akan terdengar syahdu.

Maka ku raih selendang yang masing tergantung di dahan Jepun itu. Ku kalungkan simpulnya yang berbentuk lingkaran persis di leherku. Bisa ku cium aroma Ibu di sekujur selendang itu bercampur dengan wangi Jepun Niang yang menyeruak di sekelilingku. Ku pasang senyum kebanggaan manusia berdarah biru. Ketika kursi tua itu ku tendang hingga jatuh mencium tanah. Dengan secepat kilat, selendang menjerat kuat leherku, menutup semua aliran darahku, mengusir seluruh oksigen yang mencoba masuk. Sempat ku dengar jantungku memberikan 5 detak terakhirnya, kemudian mataku tak lagi melihat pancaran Purnama. Segalanya gelap. Segalanya terjadi begitu cepat.

 

***

Selang beberapa detik, kelam berganti warna-warni bianglala. Ku dapati tubuhku melayang bersama luruh kelopak-kelopak Jepun Niang. Ada dua wanita menggenggam kedua tanganku, mengangkat tubuhku tinggi-tinggi. Bidadari kah mereka? Niang, Ibu? Kalian?

 

  • lin

    Selendangnya warna apa, Gung?