[KEPING II] “Gadis Ini”

ilustrasi: imgkid(dot)com
ilustrasi: imgkid(dot)com

Aku bertemu gadis ini. Matanya jingga bercampur rubi. Apabila Bhatara Surya menembus korneanya, akan ada kilau paling sempurna terpancar. Pernah ku cermati seksama di balik tumpukan prosa romansa, ku dapati Eden terbingkai oleh matanya. Engkau tak akan percaya, mulutnya mengeluarkan senyawa Kahyangan yang mampu memekarkan mawar di dalam rongga mulutku. Tiap katanya terucap, tiap diksinya teruntai, angin timur akan datang membawa musim semi untuk para penyendiri.

Pada wajahnya yang teduh, ku temukan berhektar hektar padang bunga krisan. Kawanan kupu-kupu dan kumbang tengah asik menghisap cinta di sana. Semburat aurora dan warna pagi yang kekal jadi racikan hangat pengantar kisah. Bak mencicipi secangkir kopi terbaik, aku hanyut di ke dalaman hari. Tubuhku pecah jadi partikel-partikel puisi di perayaan fajar. Engkau, gadis ini. Ia meracuni sunyiku dengan kerinduan.

Aku hampir lupa bagaimana rasanya rindu yang mengakar di kalbu? Rindu ini bak ekstaksi, candu yang menyakiti. Bayangnya adalah obat penawar paling mujarab. Karena rindu hanya mencari bayangnya, dalam wujud apapun itu. Delapan tahun terpenjara sepi, belum pernah kunikmati rindu yang lebih lezat dari remah-remah masa lalu. Gadis ini menghidangkan rindu dengan takaran terbaiknya.

Seperti inikah rindu yang membelah sukma, yang membius bunga tidur, dan menerbangkan asa? Aku tak ahli mendeteksi perasaan-perasaan cinta? Aku tak akrab lagi dengan perasaan jatuh cinta? Bagaimana mengenali itu cinta? Pun bagaimana jika yang bergelora hanyalah sebentuk kekaguman? Seperti kekagumanku pada-Nya. Gadis ini berhak untuk dipuja para kumbang. Ia laksana sihir yang mengalirkan kehangatan dari puncak es paling sunyi. Ia meletupkanku oleh anggunnya.

Namun, keraguan mengembara. Benarkah aku jatuh cinta? Yang aku tahu aku kembali dalam pengembaraan dengan rindu yang mekar di dada.

Sementara itu, ada kamu, hanya kamu di sana.