[KEPING III] ” Senja di Kamar”

ilustrasi: newartcolor(dot)com
ilustrasi: newartcolor(dot)com

Senja mengetuk pintu kamar. Kepada dinding yang memuja sunyi, ia menitip tanya tentang aku. Bagaimana kabar lelaki yang bercita-cita bunuh diri di usia 27? Masihkah lelaki itu menyulam kunang-kunang pada dahan-dahan tua milik malam? Benarkah kini sekuntum krisan hitam mekar di dadanya? Kapan terakhir kali ia menghitung bintang jatuh demi mengusir gugur musim? Senja mengetuk pintu, begitu pelan, tanpa derak, tanpa bisik cemas, tanpa dingin yang menusuk-nusuk.

Setiap kali senja menembus gelas-gelas jendela, diciumnya anyir duka teramat. Seorang lelaki mati tertusuk penantian. Darahnya melarung gumpalan luka masa silam. Lelaki itu aku, dikubur persis di atas ranjang bercampur matahari dan keringat. Lelaki itu aku, yang terpejam tanpa sempat menulis basa basi perpisahan. Lelaki itu aku, dengan senyum pucat dan nafas penuh makian. Lelaki yang dicari senja itu, aku. Seorang aku dari masa lalu.

Langit peraduan sandikala,

Di kamar berjaring laba-laba, pelan-pelan mataku memburunya. Sebuah garis keemasan terpantul wajah renungan. Aku dapati senja mengendap-endap lari lewati sepasang jendela tua. Sekejap dirinya larut bersama petang. Kembali ke liang Kala. Aku yang belum sempat mengutarakan rasa. Sebuah kerinduan masa silam yang hampir menjelma abu dan tanah.

Sepeninggalnya,

Aku mengerti kita akan baik-baik saja. Aku bisa berdamai dengan nostalgia. Aku akan kembali pada aku, seseorang yang dirindukan senja dan aku. Tapi mungkin, suatu nanti. Ketika semuanya letih bertikai. Ketika semuanya menerima kehadiran AKU.