Mencari Rasa Tulus di Monokrom

Album Tulus Monokrom

album tulus monokrom

Dibanding Gajah, Monokrom tak banyak berkompromi dengan masa lalu. Monokrom tak terdengar begitu personal, namun tetap melegakan.

Tulus memperkenalkan babak barunya dalam Monokrom lewat “Pamit”. Siapa sangka ia menautkan kesederhanaannya dengan orkestra. Memang bukan full orkestra –dalam sebuah konferensi pers event musik, saya menanyakan kembali hal ini kepadanya. Tulus pun menegaskan bahwa tidak sepenuhnya orkestra, yang ada hanya kolaborasi dari sejumlah instrumen gesek.

Tapi tetap bagi saya pribadi, iringan mewah dari The City of Prague Philharmonic Orchestra terang membuat warnanya tak lagi sama dengan Tulus pada Gajah maupun debut selftitled nya. Kesan pop ballad serba generik pun jadi konsekuensi. Sementara kedalaman lirik berusaha menancapkan tajinya di sini.

Apabila musik dalam “Pamit” didefinisikan sebagai kematangan dan kebaruan yang disinyalkan Tulus pada Monokrom, maka perbolehkan saya pesimis untuk kelangsungan cinta saya terhadap karya anyarnya. Eits, nampaknya terlalu gegabah. Tentu saja tak boleh menilai hanya dari satu materi saja.

Lantas “Ruang Sendiri” pun hadir sebagai label kedua Monokrom. Impresi pertama saya pun sedikit mulai dipatahkan. Ruang Sendiri mencoba tampil dengan karakter Tulus yang bersahaja, tapi tetap menggaris bawahi perpaduan bunyi dari instrumen gesek selayaknya Pamit. Petikan gitar, dentuman drum dan harmonisasi harmonika meminimalisir dominasi dari orkestrasi yang ada. Bahkan, lantunan orkestra jadi sekadar pelengkap semata.

Album Tulus Monokrom

Pun antara “Pamit” dan “Ruang Sendiri” punya warna yang sama dalam tematik liriknya. Seakan menegaskan bahwa Tulus jenuh menciptakan subjek hasil dari komprominya terhadap masa lalu dan kehidupan personalnya. Subjek-subjek dalam kedua tembang tersebut tak lagi hanya korban yang tak punya daya untuk menentukan arah hidup. Subjek-subjek di sana hidup sebagai pribadi yang berkuasa atas keputusannya dan siap menanggung buah konsekuensi.

Buat saya, justru bukan dua tembang tersebut yang menuntun kita pada kecemerlangan Monokrom. Coba putar “Tergila-gila”, di sana kamu akan menemukan keriaan Tulus yang lama pada lagu-lagu tempo sedang. Mungkin tidak se-Motown “Baru” di album Gajah atau se-groovy “Jatuh Cinta” pada album debutnya, tapi track ini punya beat yang ampuh menggetarkan kaki dan pinggang kita untuk berdansa. Liriknya apalagi. Gombal.

Kegombalan itu pun kembali merajarela pada ruang track “Cahaya”. Dibawakan dengan sekasual dan sesederhana mungkin lewat iringan gitar, racikan “Cahaya” pun jadi sebegitu dalam terdengar. Dari perkara cinta yang hilang rasa, lantas melesat ke memori cinta yang penuh janji manis dan suka citanya, pun Tulus tak luput menyajikan seloyang luka cinta seperti yang ia lakukan di dua album sebelumnya.

Monokrom Tulus

Tukar Jiwa ampuh mengacaukan nalar Anda untuk tak rindukan mantan atau meluluh lantahkan cita-cita menatap hidup ke depan tanpa bayang-bayang sang pujaan. Mendung kian bersarang di hati pasca mendengarkan satu sajian balad, “Langit Abu-Abu”. Sekilas liriknya senyawa dengan Sewindu maupun Bumerang. Pikiran pun melayang dengan tanya, siapakah gerangan wanita yang menyakiti hati Tulus tuk kesekian kalinya lagi?

“Lekas”, “Mahakarya” dan “Manusia Kuat” adalah tiga tembang yang membawa pijar hangatnya tersendiri. Semacam jenis lagu penyemangat untuk menyongsong hari tanpa mengengok ke belakang dan mengilhami diri untuk terus berkarya. Sementara itu, satu track yang notabene judul albumnya sendiri, “Monokrom” menjadi benang simpul yang menarik visi dari album ini tentang sebuah ungkapan terima kasih kepada insan-insan yang berkontribusi terhadap karirnya.

Lirik yang tak bekerja cepat.

Album Monokrom Tulus

Lirik-lirik yang ditulis Tulus sejatinya lebih besar dari kualitas vokalnya dan lebih magis dari setiap notasi yang diramu dalam aransemennya. Setidaknya, itu yang saya rasakan pada dua album pendahulunya.

Tulus pandai bertutur dengan pilihan kata-kata sederhana, namun tetap puitik. Diksi-diksinya renyah di telinga. Pun ia pintar bermain dengan analogi-anologi. Ia pencerita yang ulung. Liriknya itulah menjelma puisi.

Jika membandingkan dengan dua album sebelumnya, kepenulisan lirik Tulus dalam Monokrom punya impresi yang sedikit beda bagi saya. Tentu saja bukan perbedaan konten yang jadi soal. Tulus pada Monokromnya justru seolah kehilangan tajinya dalam meramu diksi.

Monokrom Tulus Album

Penulisannya dalam Monokrom terasa sangat datar. Narasinya terasa hambar, tak mampu mengoyak kedalaman. Tak terdengar banyak rima dan diksi yang membuat terkesima. Pun jika masih mendapati analogi-analogi manis (*semisal frase Langit Abu-abu atau di bagian lirik lainnya), terasa hanya tempelan. Tak lagi jadi ruh dalam lirik-lirik tipikal Tulus pada umumnya. Saya kehilangan separuh Tulus yang tulus bercerita.

Beda dengan dua album pendahulunya, saya harus menyimak Monokrom berulang kali. Hanya sekadar ingin mencari rasa Tulus yang dulu pernah saya cecap dengan nikmat. Beruntung Monokrom masih melegakan, meski harus menempuh waktu yang panjang untuk mencapai rasa itu. Apakah ini jadi semacam penanda bahwa lirik-lirik magis Tulus hanya bekerja saat ia berkompromi lagi kepada masa lalunya?

Rate [ B- ]