Menelusuri “Dapur Artistik” John Hardy

Panorama hijau petak-petak sawah, gemericik aliran sungai, kicau burung-burung liar, dan pepohonan rindang tinggi menjulang adalah sejumlah kemewahan yang menyertai perjalanan saya dalam menelusuri “dapur artistik” John Hardy.

Siapa sangka lokasi workshop dari brand perhiasan perak yang telah mendunia itu sarat dengan kesan alam. Atmosfernya pun tak seperti tempat kerja pada umumnya, malah seolah berada di villa-villa ala Ubud.

Pagi (30/5) itu, saya disambut oleh Senior Public Relation & Marketing Manager John Hardy, Ibu Sri Utami. Ia pun mulai memperkenalkan saya dengan lingkungan workshop & showroom John Hardy yang terletak di Banjar Baturning, Desa Mambal, Kecamatan Abiansemal itu. Saya dibuat terpesona dengan pemaparan Ibu Sri yang mengungkapkan bahwa workshop dan showroom yang berada di atas lahan seluas 2 hektare itu dibangun dengan mengikuti kontur tanah aslinya. “Jadi kami tidak melakukan perubahan yang merusak lingkungan di sekitar lahan. Bangunan kantor dan showroom pun bersebelahan persis dengan sawah,” terang Ayu Utami.

Ya, itu benar. Apabila bangunan pada umumnya memiliki taman yang berupa padang rumput dengan tumbuhan-tumbuhan tropis, John Hardy malah menjadikan petak-petak sawah di areanya layaknya lanskap taman yang menarik. John Hardy juga mengajak petani di desa tersebut untuk bertanam padi di sawah tersebut dan memanen hasilnya, sehingga hasilnya bisa dinikmati bersama-sama.

Berbicara tentang arsiterktuRnya, bangunan-bangunan di John Hardy didominasi oleh bambu, atap alang-alang, dan bahan-bahan daur ulang. Bahkan pengunjung workshop akan mendapati kandang kambing dan kelinci di sekitar area showroom mereka. Semuanya didesain sesuai dengan konsep brand yang diusung mereka, yakni “suistainable luxury”, bagaimana menampilkan sebuah produk “mewah” yang bersifat berkelanjutan tanpa harus merusak lingkungan sekitar.

Wantilan Design John Hardy / pic: John Hardy
Wantilan Design John Hardy / pic: John Hardy

Ada tiga bangunan utama di kawasan John Hardy Bali ini, antara lain bangunan workshop, bangunan showroom, dan bangunan desain yang menjadi satu dengan kantor administratif mereka. . Sebuah bangunan berkonsep wantilan menjadi ruang kerja bagi 15 desainer perhiasan John Hardy. Bangunan yang bernama Wantilan Design ini sarat dengan kesan vintage dan tradisional, serta dikelilingi oleh kolam ikan dan sepetak sawah. Tak heran, para desainer bisa jadi lebih rileks bekerja dan mendapatkan mendapatkan banyak inspirasi untuk karya-karyanya.

Oh ya, para desainer di John Hardy ini dibagi menjadi tiga tim, yakni desainer khusus menangani rancangan wanita, desainer untuk perhiasan pria, dan desainer untuk rancangan perhiasan terbatas. Bangunan ini juga terkoneksi dengan kantor John Hardy administratif dan pemasaran John Hardy.

Berbeda dengan bangunan kantor dan showroom yang jaraknya tidak terlalu jauh dan tidak dibatasi oleh sekat, bangunan workshop justru sengaja dibatasi dengan pagar bambu yang tinggi dan penjagaanya pun sangat ketat. Sementara itu, arsitektur showroom John Hardy bisa jadi yang paling mencolok dari bangunan-bangunan lainnya di sana. Ini lantaran bangunannya yang mengusung konsep “kapal bambu”, di mana atap showroom bermaterial alang-alang didesain menyerupai badan kapal terbalik. Elemen-elemen bambu mendominasi desain interior showroom yang memiliki dua lantai ini. Di showroom John Hardy ini, pengunjung bisa melihat-lihat beragam koleksi perhiasan perak yang mewah dan berdesain unik.

Saya tak menyangka showroom ini mempunyai dua lantai. Mungkin karena mengikuti kontur tanah yang sedikit berundak, mereka memanfaatkannya untuk membangun sebuah ruangan layaknya berada di lantai basement rahasia, padahal sebenarnya tidak. Hanyak efek kontur tanah dan desain arsitektur briliannya yang membuat sensasi semacam itu terjadi. Saya sangat kagum dengan konsep display mereka, di mana beberapa diantara display-nya berbentuk batang bambu. Ya, dan perhiasan mereka berada di dalam bagian batang bambu yang berlapis kaca. Wah!

 

Koleksi perhiasan John Hardy sangat dikenal bermain dengan tema-tema, seperti dot, bamboo, chain, legend, dan one of kind. Setiap koleksi terbarunya biasanya diluncurkan untuk musim semi dan musim gugur. Salah satu koleksi terbaiknya bernama “Cinta” yang konon terinspirasi dari hadiah John untuk istrinya, di mana Guy diminta untuk mendesainnya secara khusus. Ada pula The Naga Collection yang diibaratkan sebagai simbol cinta, keberuntungan, serta perlindungan.

Koleksi lainnya bertajuk “Bamboo” bisa dikatakan memiliki desain yang lebih simpel. Koleksi ini tergolong istimewa, karena setiap pembeliannya akan turut berkontibusi dalam gerakan penanaman pohon bambu yang dilakukan oleh John Hardy. Berbeda dari perhiasan-perhiasan pada umumnya yang hanya menonjolkan desain luarnya saja, koleksi John Hardy justru mendesain bagian dalam perhiasannya, seperti yang terlihat pada gelang dan cincinnya. Menarik bukan?

Proses yang Kompleks

Seorang pria tampak sibuk mengukir material wax menjadi sebuah bentuk naga. Tangannya begitu telaten mematri detail-detail naga yang begitu kompleks, seperti kepala, mata, rahang, sisik, dll, Nantinya, wax berbentuk naga ini akan menjelma sebuah gelang mewah dengan brand John Hardy.

Itulah salah satu gambaran aktivitas yang saya jumpai di area workshop, John Hardy. Disini, terdapat kurang lebih 600 pengrajin Bali yang membantu proses produksi seluruh perhiasan. Ya, semua perhiasan John Hardy diciptakan secara handmade oleh para pengrajin perak handal di Bali. Mereka dibagi dalam beberapa divisi untuk mempercepat pengerjaan, semisal tim khusus untuk merancang model wax, tim yang memroses casting, tim yang membuat detail-detail aksesoris, hingga tim yang menyatukan seluruh detail menjadi satu model perhiasan yang utuh.

Untuk menyelesaikan satu koleksi perhiasan bisa memakan waktu tiga bulan atau bahkan satu tahun lebih, tergantung dari tingkat kerumitan desain perhiasan itu sendiri. Pembuatan perhiasan perak di John Hardy pun memang tergolong kompleks dan dan memakan waktu yang tak sedikit. Namun berkat kerjasama dan pembagian tim yang tepat mampu sedikit meringankan pekerjaan ini. Model wax yang dikerjakan oleh salah satu pengrajin di area workshop hanya merupakan satu dari sekian rentetan proses yang memang harus ditempuh hingga akhirnya bisa menciptakan sebuah perhiasan perak mewah dan sesuai dengan sketsa desain.

“Jika model wax-nya sudah jadi akan segera dilanjutkan ke dalam proses casting, di mana pengrajin akan menyusun model-model wax menjadi sebuah bentuk pohon atau kami menyebutnya wax tree. Nah, wax tree ini kemudian di-gypsum hingga mengeras, di mana nantinya akan dijadikan sebagai cetakan untuk membuat perhiasan berbahan perak atau campuran perak dan emas,” ungkap Sang Ayu Putu Sri Utami selaku Public Relations, John Hardy. Selain itu, setiap desain perhiasan John Hardy akan memiliki master design-nya sendiri, di mana akan sangat berguna jika nantinya, desain tersebut ingin diproduksi ulang.

John Hardy Adalah “Seseorang”

John Hardy bukan sekadar brand. Ada cerita menarik di balik seluruh konsep “sustainable luxury” yang ditawarkannya. Ia adalah seorang pemuda asal Kanada di awal tahun 1970 yang hijrah ke Bali usai menamatkan pendidikannya di sebuah institusi seni di Kanada. Niatnya ke Bali hanyalah untuk liburan, namun dalam perjalanannya justru John jatuh cinta dengan kebudayaan, kehidupan seni, serta keramah tamahan orang Bali. Dari kekagumannya terhadap Bali lah lantas menginspirasinya untuk membuat sebuah karya.

Ia pun berbaur dengan kehidupan para pengrajin perhiasan perak di Bali. Uniknya John bukanlah seorang desainer handal, apalagi seniman perhiasan. Melainkan, ia adalah seorang konseptor dan visioner yang ulung, di mana mampu menransfer sejumlah ide dan konsep briliannya kepada pengrajin Bali, agar direalisasikan untuk menjadi koleksi perhiasan yang menawan. John mampu mengolaborasikan teknik tradisional khas pengrajin perhiasan Bali dengan selera modern yang dimilikinya.

Di awal eksperimennya, ia pun sukses menjual beberapa perhiasan yang diinisiasinya tersebut kepada para turis di Bali. Melihat peluang tersebut, John pun kembali merangkul beberapa pengrajin lokal untuk membantunya mewujudkan ide-ide desain perhiasan lainnya. Puncaknya brand John Hardy itu sendiri tanpa disadari diluncurkannya sejak tahun 1979 dan telah memberdayakan tenaga-tenaga pengrajin lokal. Berkat dorongan istrinya, Cynthia, John pun mulai serius mengembangkan bisnis perhiasannya ke tingkat yang lebih lanjut. Itu ditandai dengan John merekrut Guy Bedarida, seorang desainer perhiasan profesional yang sebelumnya bekerja untuk sebuah brand ternama di New York.

Dengan bergabungnya Guy Bedarida sebagai Head Designer dan Creative Director, konsep filosofi brand yang berkelanjutan serta peduli lingkungan dari John Hardy pun mampu diaplikasikannya secara sempurna. Tidak hanya terlihat dari koleksi-koleksi perhiasannya yang menggunakan material campuran seratus persen perak dan emas, tetapi brand John Hardy juga melakukan gerakan penanaman bibit bambu di Bali guna mengimbangi emisi karbon di udara. John Hardy bahkan telah berkontribusi dalam penanaman 900.000 bambu di seluruh Pulau Bali. Kegiatan tersebut tidak hanya membantu pelestarian alam, tetapi juga turut mendorong kesejahteraan sosial masyarakat sekitar.

John Hardy tidak lagi terlibat dalam brand perhiasan ini sejak tahun 2007 dan menjualnya kepada mitranya Guy Bedarida and Damien Dernoncourt saat itu. Meski begitu konsep visioner seorang John Hardy tetap mengiringi setiap langkah brand ini. Seolah John Hardy adalah identitas abadi yang tak pernah bisa lepas dari tiap citra kemewahan desain perhiasan.

Merek John Hardy itu sendiri telah mendunia. Koleksi perhiasannya bisa didapatkan di lebih dari 600 toko retail-nya yang tersebar di 27 negara, bahkan dipamerkan di beberapa department store terkenal, seperti Bloomingdale’s, Harrods, Harvey Nichols, Isetan, Lane Crawford, Neiman Marcus dan Saks Fifth Avenue. Kantornya pun terpusat di beberapa titik, seperti Hongkong, New York, Bali, dan Bangkok.

Di penghujung tur Workshop & Showroom John Hardy, ternyata pengunjung disuguhi jamuan makan siang yang notabene dipersiapkan khusus oleh tim dapur mereka. Istimewanya lagi, bahan-bahan makanan yang diolah berasal dari kebun mereka sendiri lho. Ya, mereka secara khusus menanam sayur dan buah-buahan di sekitar area kantor. Dan hasil kebun pun bisa dinikmati oleh para pekerja John Hardy di setiap jam makan siang. Terdengar seperti kantor impian setiap orang, ya?