Perjanjian Maple

Segelas coffee-late Starbucks hampir seperempat dingin di tangan Richie. Mungkin jarum jam dinding yang bergerak cepat telah mencairkan rasa hangat late-nya itu. Namun Richie tidak mempedulikan atau pun berniat untuk menyeruputnya. Pandangannya hanya tertuju pada panorama keheningan di sepanjang jalan Springfield Road. Entah apa yang membuat Richie meninggalkan mobil Cadillac hitamnya di ujung Springfield Road dan berjalan penuh bisu dengan air muka bak lautan mati.

Ia pelan melangkah hingga bunyi sepatunya pun terdengar di sela-sela kicauan sekawanan manyar. Rasa melankolisnya seraya bangkit ketika menginjak tiap helai guguran dedaunan maple kering. Dia pun membungkukkan tubuhnya memungut beberapa bangkai maplemaple tua itu. Tiba-tiba matanya tertarik pada sehelai maple yang tertindih diantara kawan-kawannya yang mati. Daun maple itu sangat berbeda dari maplemaple lainnya yang berserakan. Sangat terasa saat Richie meletakkan daun maple tersebut di telapak tangan kirinya. Tulang daunnya nampak belum rapuh benar dan pun urat-uratnya menonjol penuh ekspresif yang mengesankan karakter daun yang kuat di kala usianya renta dulu. Daun maple itu memiliki gradasi warna pucat yang unik, kombinasi jingga, cokelat muda, dan di bagian permukaan tertentu terdapat warna biru keabu-abuan serta sedikit hijau tua. Richie mencium bau maple itu ternyata masih cukup segar, seakan-akan dia tak percaya daun tersebut sudah tutup usia dan meninggalkan rumah rantingnya. Apa mungkin daun itu memang belum mati, hanya ingin kabur sejenak dari ranting yang membuat dirinya sekarat. Sepertinya Richie percaya mapple itu sedang sekarat, seolah-olah dia memiliki koneksi untuk bisa merasakan ruang pesakitan sang mapple. “Aku pun pernah merasakan rasa sakit yang mendalam sepertimu, meski aku sadar kita berada dalam kondisi serta problem yang berbeda” katanya membatin ketika menatap daun maple itu dengan pancaran sendu.

**

Tidak ada yang berubah dari musim kemarau di Springfield, serbuan desir angin sorenya masih kerap mengalahkan pancaran hangat mentari dari barat. Pikir Richie, dia ingin ke Danau Brightfield saja, sambil menikmati sunset di kota Springfield untuk terakhir kalinya. Untuk mencapai Brightfield perlu setengah mil lagi, namun langkah Richie masih saja terkesan gontai seakan dia memang sengaja memperlambatnya. Dari kejauhan dia merasakan atmosfer yang begitu perih dari pemandangan pohon-pohon maple berwarna jingga di kanan-kiri trotoar, seolah gugur dedaunannya menyiratkan tangisan tentang kepergian. Tiba-tiba, selembar siluet kenangan pun mulai merancau dalam otak Richie. Awalnya hanya berupa warna-warna sepia yang sedikit pudar namun kemudian membentuk gambar-gambar yang lebih jelas. Pikirannya pun kembali ke masa indahnya bersama Anne Mary Olsen, satu cinta hidup dan matinya.

Musim gugur September 1988, Richie dan Anne kecil beserta sahabat karib mereka Lusi masih suka bermain di sepanjang jalan Springfield Road sambil menikmati guyuran daun-daun maple. Bahkan kerap kali mereka bertiga tidur-tiduran di atas tumpukan maple kering di dekat danau. Biasanya Richie kecil yang lebih tua dua tahun itu, menggendong Anne yang sedang asik menikmati es krim dari toko Frozen-sweet. Sementara Lusi sedang asik menjahili mereka dengan aksi-aksi konyolnya. Richie masih ingat kala itu Anne mengenakan dress mungil berwarna merah jambu dengan pita biru muda menghiasi rambut panjangnya, rona merah pipi mungilnya sangat khas, bahkan suara manjanya masih terngiang di telinga Richie. Untuk mengendap-ngendap keluar dari Panti Asuhan St. Claire sangat jarang bisa lolos dengan rapi. Mereka bertiga harus mengandalkan segala daya untuk menipu Suster Katharine dan Suster Anita yang galak.

Kepala Richie terasa agak pening, namun dia menikmati film pendek tentang nostalgia masa kecilnya dengan Anne yang terus berputar dalam isi kepalanya itu. Air mukanya berubah bak mata air yang segar dan sesekali terpergok ingin melukiskan senyuman dengan lesung pipit kiri dan kanannya. Meski mereka terlalu ingusan untuk mengenal cinta monyet, namun Richie kecil menanamkan keinginan besar dalam lubuk hatinya, kalau suatu saat nanti dia hanya akan menikah dengan Anne. Richie pun sempat menyadari bahwa impian masa kecilnya itu sebentar lagi akan terwujud.

Danau Brightfield terlihat makin dekat dari pandangan Richie. Dia dapat mengenali aroma air danau  yang khas itu dan pun deretan jingga pepohonan maple terlihat makin banyak saja. Spontan Richie pun melarikan langkahnya untuk bisa mencapai danau lebih cepat. Lagi-lagi banyak guguran daun-daun maple kering diinjaknya. Kembali siluet masa lalu merancau dalam otak Richie, dia seolah melihat bayangan Anne yang sedang berdiri sendiri di pinggir Danau Brightfield sambil menatap langit yang berjingga. Sempat Anne membalikkan badannya dan memberi senyuman kecil pada Richie, namun kemudian sosoknya menghilang bersamaan dengan angin yang memainkan bangkai maple-maple tua di udara. Langkah Richie berubah gontai, dia berusaha menembus ranting-ranting pohon ek yang menghalau pandangannya ke Danau Brightfield. Meski dia menyadari sosok Anne yang dilihatnya hanya sekedar ilusi, namun matanya tetap mengisyaratkan untuk mencari-cari sesuatu yang hilang. Dia berpindah ke kawanan pohon maple di sebelah barat. Lagi-lagi matanya memburu sesuatu, air mukanya pun berubah masam. Richie sudah dikelilingi oleh empat pohon maple, dua diantaranya hanya masih menyisakan batang dan ranting tua, karena daun-daunnya sudah habis berguguran.

Ruang emosionalnya makin tak terkendali, Richie pun segera meraba-raba kulit batang keempat pohon maple tersebut. Entah, apa yang ingin dicarinya, pikiran Richie sudah hampir setengah kacau, matanya pun mulai berkaca-kaca. Dia tidak menemukan sesuatu yang ingin dicarinya itu. Dia cukup lama menengadah ke atas mengamati bentuk keempat pohon maple itu. Tak lama kemudian matanya tiba-tiba  tertarik pada pohon maple besar yang berjarak terpisah satu meter dari tempat keempat pohon maple tadi berada. Tanpa ragu, Richie pun berlari ke arah pohon tersebut.

**

Pohon maple besar itu berdiri cukup kokoh diantara pohon-pohon maple mungil yang pigmen daunnnya belum sejingga dengan si maple raksasa. Ada perasaan mendayu-dayu dalam relung hati Richie, ketika jemarinya menyentuh kulit luar batang si maple raksasa yang keras itu. Richie meraba-raba seluruh permukaan batang pohon tersebut, mencari-cari kalau ada sesuatu hal miliknya yang berharga. Akhirnya Richie menemukan sebuah pahatan berukuran 5 x 8 cm, disana terukir namanya dengan Anne dimana dilingkari dengan pahatan berbentuk jantung. Richie dapat merasakan sebuah kenangan mendalam bersama si maple raksasa dan cinta sejatinya, Anne. Jantungnya mulai berdegup kecang.

“Disini perjanjian Richie dan Anne –Aku Richie dan aku Anne berjanji akan kembali bertemu di danau Brightfield tepatnya di bawah pohon maple raksasa ini pada musim gugur awal bulan September” seru Richie dan Anne kecil.

“Jika aku melanggar janjiku, Richie boleh membenciku seumur hidupnya” kata Anne sambil menyipitkan matanya. “Tapi kalau aku yang melanggarnya, bolehkah aku emmmmm… mencium pipimu? hahahahaa” ungkap Richie penuh tawa.

“Apakah kamu benar-benar akan menungguku Richie? Bagaimana seandainya saat dewasa nanti, aku lupa akan tempat ini dan perjanjian kita?” ucap Anne dengan suara manisnya. Richie pun menjawab dengan penuh percaya diri “Tentu saja aku akan tetap menunggumu disini, apapun keadaannya, aku akan menunggumu sampai akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi di bawah pohon ini”.

Adegan siluet masa lalunya itu terus berputar dalam ingatan Richie. Dia pun masih ingat betapa sabarnya sebuah penantian untuk Anne di Danau Brightfield. Setiap musim gugur di awal September, dia selalu mengendap-ngendap keluar dari panti untuk pergi ke danau, menengok barangkali Anne datang pada saat itu. Sebenarnya, Anne sudah mendapatkan orang tua asuh yang baru. Mereka membawa Anne jauh dari London, kata Suster Margaretha mereka pergi ke kota Manchester. Tinggallah Richie di panti tanpa Anne, namun untunglah masih ada Lusi yang senang menghibur Richie di saat-saat dia  teringat dengan Anne. Dua tahun kemudian, dia diangkat menjadi anak oleh seorang janda kaya bernama Jane Smith. Saat itu Richie sempat memberontak tidak ingin meninggalkan panti, karena dia sadar Anne akan sedih bila dia tidak menepati janji untuk menunggunya di Brightfield. Untungnya Lisa berhasil menenangkannya dan berjanji akan menggantikan posisinya.

“Richie, aku yang akan menunggu Anne di Brightfield, aku janji akan disitu setiap musim gugur dan akan menyampaikan pesanmu. Aku yakin dia akan mengerti” tutur Lisa lembut.

“Benarkah?” sahut Richie sedikit meragu. “Pegang kata-kataku. Tapi kamu juga harus janji untuk kesini lagi dan menepati janjimu dengan Anne” terang Lisa.

Memori masa kecil itu berhenti bermain sejenak dalam kepala Richie. Dia mencoba takjub akan pohon maple raksasa itu yang kondisinya masih persis semenjak ditinggalkan olehnya dua tahun yang lalu. Matanya terlihat berkaca-kaca layaknya sedang tersentuh lagu-lagu melow Frank Sinatra.

**

Menariknya, tujuh tahun kemudian setelah kepergiannya dari panti asuhan, Richie mendapatkan postcard pertamanya dari Anne. Dia pun senang bukan kepalang. Dalam postcard pertamanya yang bergambar istana Buckingham, Anne menuliskan bahwa dia sudah sempat mengunjungi panti dan bertemu dengan Lisa. Lisa sudah menjelaskan tentang keadaan Richie, sehingga Anne tidak terlalu cemas untuk memikirkannya. Bahkan Anne menjelaskan kalau dia makin akrab saja dengan Lisa, layaknya dua saudara perempuan yang terpisah cukup lama. Anne juga mengutarakan pengalamannya selama di Manchester. Begitulah selama hampir dua tahun lebih mereka berkomunikasi ria lewat postcard, sudah terhitung 150 postcard dengan gambar-gambar pemandangan kota London dan Ottawa saling mereka kirimkan. Disana banyak tertulis kerinduan Richie dan kata-kata manja Anne. Meskipun Anne tidak pernah menyatakan rasa cinta kepadanya secara tertulis, namun Richie sangat yakin Anne masih merasakan perasaan yang sama seperti dulu pernah mereka rasakan. Kata-kata rindu dan penuh perhatian selalu menghiasi diksi surat Anne kepada Richie. Pada suatu kesempatan Richie yang saat itu berusia 22 tahun berniat menemui Anne dan melamarnya. “Bagaimana kalau musim gugur bulan ini kita bertemu di Brightfield, di pohon maple yang dulu itu? Aku ingin memberikan kejutan untukmu” tulis Richie di atas postcard bergambar pemandangan musimsalju di kota Ottawa.

Richie sengaja tidak mengatakan persis tanggal kedatangannya untuk menemui Anne. Dia ingin membuat Anne penasaran dan dia yakin Anne akan menunggunya di Brightfield sepanjang musim gugur berlangsung. Dia sengaja memarkir mobil Cadillac hitamnya di ujung jalan Springfield Road, sementara untuk mencapai Brightfield dia cukup hanya berjalan kaki. Richie menyeruput coffee-late Starbucks-nya sambil memikirkan kata-kata romantis apa yang ingin diungkapkannya nanti untuk melamar Anne. Sebuah cincin berukirkan inisial namanya dengan Anne sudah disimpan rapat-rapat di sakunya. Tampak beberapa kali dia tersipu malu sendiri dan mengulum senyumnya, hingga air mukanya seolah-olah menyerupai warna oranye maple yang berguguran. Jantungnya mulai berdegup kacau, ketika menyadari dirinya telah menginjak hamparan maple-maple kering di tanah Brightfield, sementara danau-nya sendiri masih terhalang oleh ranting-ranting pohon ek, sehingga pandangan Richie susah menjangkau panorama danau tersebut. Richie masih ingat arah untuk menemukan pohon raksasa masa kecilnya itu.

Richie menganalisa setiap pohon mapple yang bertubuh besar, sesekali dia menengadah ke atas mengamati daun-daunnya yang belum berguguran. Tak butuh waktu yang lama untuk menemukan si pohon mapple raksasa. Langkahnya berderap lebih cepat untuk menghampiri sang pohon. Namun setibanya disana, dia tidak lagi terpaku akan keindahan sang pohon mapple. Richie terpaku pada sosok dua orang gadis yang sedang berdiri di bawah pohon itu salah satunya membelakangi pandangan Richie. Seorang gadis berambut hitam panjang dengan sebuah pita biru muda yang mengikat rambutnya itu bak ekor kuda. Sedangkan gadis yang satunya lagi, rambutnya berwarna pirang dengan potongan pendek sebahu, dibiarkannya tergerai dan mantel hitam turut membungkus tubuhnya sehingga Richie agak kesusahan untuk mengenalinya dari belakang. Richie mengintip kelakuan kedua gadis itu dibalik pohon yang lain. Ternyata kedua gadis itu sedang berciuman dengan mesranya sambil diiringi adegan maple-maple berguguran. Raut muka Richie pun bercampur rasa heran, geli, dan sedikit jijik melihatnya.

“Kreekkk….!!!” kaki Richie tak sengaja menginjak ranting yang patah, kontan salah satu gadis terkejut dan menengok ke arah Richie. Akhirnya mata Richie dan mata gadis itu pun saling berpandangan satu sama lain. Betapa takjubnya Richie, dirinya mengenali gadis itu. “Lisa…!” seru Richie. Dan bagaikan tersambar petir, Richie pun mengenali gadis yang bersama dengan Lisa. Ya, dia dapat mengenali bibir, mata, dan raut muka manis gadis tersebut. “Engkau tak mungkin..tak mungkin ….ANNE??!!!!” teriak Richie penuh rasa kaget bercampur amarah dan kepedihan. Langkahnya pun perlahan mundur dan berlari keluar dari Brightfield. Dia berlari sekencang-kencangnya dengan rasa tidak percaya bahwa dirinya memergoki seseorang yang dicintainya sedang berciuman mesra dengan sahabat mereka sendiri. Hingga dia muak untuk mengakui bahwa adegan lesbian itu dilakukan Anne dan Lisa. Richie berlari menembus Springfield Road, meski dia tahu Anne dan Lisa mengejarnya. Terdengar suara Anne berteriak memanggilnya sambil menangis terisak-isak “Richiiiiiiiiiii…..akan kujelaskan….maaf..Richiiiiiii !!!” Namun Richie tak peduli lagi, setan amarah telah meracuni pikirannya. Tiba-tiba terlihat sebuah benda putih melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan dengan Richie. Kedua kakinya yang telah berlari kencang seakan-akan melayang bersama tubuh Richie yang membentur mulut sebuah mobil Chevrolet putih. Tubuhnya pun seketika jatuh mencium bumi, banyak darah mulai keluar dari kepala  dan hidungnya. Pandangannya pun meredup, hanya bisa menangkap wajah Lisa yang buram dan sehelai daun maple yang jatuh tepat dihidungnya. Itulah terakhir kalinya Richie mendengarkan suara manis Anne merasuk di selangkangan kupingnya.

***

 

Memori kelam itu bak kenyataan buruk yang menghantam kepala Richie bertubi-tubi. Rasa perih dalam hatinya melayang-layang bersama daun-daun maple kering yang menari di atas angin. Beberapa kali dia mengusap tubuh si pohon maple raksasa, kenangan itu pecah menjadi beberapa fragmen yang siap menyayat jiwa mayanya.

“Richie, maafkan aku..” suara yang tak asing itu menusuk genderang telinga Richie. Dia tak menyadari keberadaan Anne yang telah cukup lama berdiri bersamanya menatap pohon maple itu. Ingin rasanya Richie mengusap pipi Anne, mencium keningnya seperti dulu, dan berbisik tentang hal-hal lucu di telinganya. Namun, Richie tak punya daya, kini dia hanya sebuah jiwa yang tak beraga, bergerak seperti kapas, dan hanya mampu dihujam angin utara. Dia hanya sebuah jiwa yang telah diberi jarak untuk berinteraksi dengan manusia seperti Anne. Richie melihat bagaimana kata maaf berkali-kali meluncur seiring air mata yang tengah membanjiri pipi Anne. “Maafkan aku .. harusnya aku tak kembali ke kehidupanmu dan memberikan harapan palsu. Tertawakan aku Richie, hina aku, tampar wajahku, aku paham jika kau merasa jijik padaku. Aku telah jatuh cinta pada Lisa, begitu bodohnya menyakitimu dan kenangan masa lalu kita” gumamnya dengan air mata yang makin menjadi-jadi.

Richie hanya terpaku melihat Anne yang acap kali meluncurkan kutukan atas rasa bersalahnya. Seandainya dia bisa mengutarakan pada Anne, bahwa dia telah memaafkannya. Bahwa dia akan tetap menjadi cinta pertama dan terakhir untuk Richie. Baginya perjanjian maple yang pernah dilakukannya dengan Anne telah berhasil mereka tepati, Kini Richie berdiri tepat di sebelah gadis yang selalu dinantinya setiap musim gugur tiba.

Angin Brightfield menerpa tubuh Anne yang begitu lemah. Selembar daun maple diletakkan di kedua tangan manisnya. Sementara Richie mencari celah untuk menyentuh tangannya. Seketika hati Anne bergetar, seolah dia bisa merasakan kehadiran Richie disana. Mereka berdua memandangi goresan senja paling romantis di langit Springfield saat itu. “Aku pergi Anne, aku cinta kau..” bisik Richie terakhir kalinya. Sukmanya pun melebur bersama warna jingga tua maple-maple yang telah mati.