Sayonara 2015!

Sayonara 2015..

 

birds

Terima kasih atas limpahan kegagalannya. Tahun yang membikin diri tak punya daya. Tahun yang memanen kejatuhan hingga di titik tak terhingga. Tahun yang mengecilkan diri sekecil-kecilnya. Tahun yang meragukan potensi diri, mengikis kepercayaan diri sepenuhnya. Tahun yang terlalu menyisipkan banyak adegan jatuh-bangun-jatuh-jatuh dalam satu episode drama. Beruntunglah tulang, paru-paru, organ jantung, dan lipatan otak masih pada tempatnya. Beruntung saya tak gegas menghentikan napas.

Saya masih ingat bagaimana 2014 ditutup oleh berita manis. Sebuah kabar interview beasiswa masuk ke email saya. Setelah gagal mendapatkan undangan interview dari tiga jenis beasiswa yang berbeda, tentu satu email dari beasiswa terakhir memberi secercah harapan. Layaknya sebuah pintu mimpi, saya hanya harus tinggal mencari di mana kunci pintu tersebut tersembunyi. Dan saya tahu kunci itu ada di tangan tiga panelis juri yang mewawancarai saya persis di pertengahan Januari 2015 lalu. Kedengarannya seperti epilog yang manis bukan?

Saya pun berusaha semaksimal mungkin berlaga dalam “arena” tersebut. Saya membawakan diri “saya” apa adanya, tanpa perlu palsu ini itu. Namun sebuah pernyataan magis terlontar dari salah satu panelis. “Baiknya kamu lamar beasiswa S2 saja. IPK kamu bagus.” Lepas sudah beasiswa itu dari genggaman. Februari 2015 pun berubah kelam. Rasanya tak ada lagi energi untuk meyakini semua peta mimpi yang tergambar di benak ini. Kepercayaan diri habis terkikis. Layaknya virus, kegagalan itu pun menyebar di sejumlah bab hidup saya selanjutnya di sepanjang 2015.

Salah staunya pada bab asmara. Saya bukan tipe yang memaksakan jatuh cinta. Delapan tahun sendiri nampaknya telah membuat hubungan saya dengan sepi kian harmonis. Tapi tahun lalu sedikit beda. Saya mendadak jatuh cinta. Dalam dunia saya, jatuh cinta ibarat komet yang melintasi bumi 10 tahun sekali. Saya bukan tipikal orang yang mudah untuk jatuh cinta. Tapi tahun lalu saya merasakan getaran istimewa itu pada sosok DIA. Dia yang hampir saya kenal satu setengah tahun. Kami melewati fase pertemanan yang tak habis merayakan tawa. Awalnya murni bersahabat dan berbagi. Namun…

Dan akhirnya saya pun memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan itu. Getaran itu terlalu hebat. Rasanya tak kuat untuk berpura-pura untuk serba biasa saja. Berbalas? Sebelumnya saya optimis itu akan berbalas dengan perasaannya yang serupa. Ada semacam intuisi lirih yang berbisik, “Ungkapkan saja. Hatinya pasti berkata sama” Dan pertengahan 2015, ku alamatkan semua perasaan. Sayangnya, cinta itu hanya saya yang rasa. Komet itu pecah jadi partikel-partikel terkecil di atmosfer, jauh sebelum tiba di bibir bumi, juga di hatinya.

Dan hari-hari pun jadi lebih berat.

Hanya berkutat pada diskusi tentang kelemahan diri, kemalangan hidup dan hati.

Dengan sejumlah kontemplasi yang panjang, sebuah keputusan penting pun saya ambil di penghujung tahun. Saya pun bertekad untuk Keluar Dari Zona Nyaman. Saya harus mengubah rutinitas. Saya harus memberi diri saya sebuah pengalaman baru. Saya harus memperkaya kemampuan saya. Saya ingin mencoba kebaruan di hari-hari saya. Maka saya harus rela meninggalkan rutinitas kerja terdahulu, dan memilih untuk memenjarakan tubuh saya dalam sistem baru yang lebih padat dan kompleks. Tiada kebebasan waktu seperti dulu-dulu. Namun saya paham, itulah tantangan yang harus ditaklukan. Satu-satunya hal yang harus saya lewati untuk mencapai kebaruan dalam diri saya. 2016, saya mencoba meniti kebaruan sesungguhnya. Cinta? Saya biarkan itu berjalan alamiah. Mungkin DIA akan datang lagi dalam bentuk komet yang melintasi bumi setiap 10 tahun sekali. Ya bisa jadi 10 tahun lagi!

 

Sayonara 2015

 

  • Hmmm… trus, mana tulisan yang 2016 nya ?