Tumisan Satir dan Elegi a la Bamby

Kisah Muram Di Restoran Cepat Saji Bamby Cahyadi (768x1024)

Berpiring-piring cerita dengan beragam rasa satirikal yang sekejap membuat kenyang

Jika penulis itu adalah seorang koki handal, maka menyoalkan ketimpangan sosial di sekitarnya adalah resep terfavorit dari masakan yang bernama cerita. Begitulah, Bamby Cahyadi melakoni peran koki yang lihai meramu 15 kisah ke dalam satu loyang buku bertajuk Kisah Muram di Restoran Cepat Saji. Bumbu-bumbunya berkutat tentang kegelisahan, kedukaan dan kontemplasi seorang manusia. Sementara lauk pauknya adalah tema-tema sosial serta personal yang akrab dalam kehidupan sehari-hari kita.

Judul Kisah Muram di Restoran Cepat Saji tengah mewakili esensi 14 kisah lainnya yang notabene menuturkan kerapuhan di atas kemasan cantiknya. Cerita pendek Kisah Muram di Restoran Cepat Saji sejatinya memotret tentang seorang pelayan yang nyinyir terhadap tingkah polah para pelanggannya. Bamby tengah menelusuri realita baru di balik layanan penuh senyum kamuflase seorang pramusaji. Semboyan “pelanggan adalah raja” seolah ingin dicincang oleh lakon utamanya.

Secara gamblang, Bamby juga menunjukan kecintaannya terhadap Senja sebagai buah inspirasi yang memabukan. Nilai-nilai simbolik senja dapat ditemukan dalam kisah Bila Senja Ingin Pulang serta Malaikat yang Mencintai Senja. Kekuatan imajinasi Bamby makin terasa liar saat menyajikan Mimpi-mimpi yang Mengajakku Tersesat, Malaikat yang Mencintai Senja, dan Lelaki yang Terperangkap dalam Prangko.

Plot menarik ditawarkan Mimpi-mimpi yang Mengajakku Tersesat, dimana sebuah mimpi yang berlapis-lapis itu mengantar lakon utamanya dalam lorong kebingungan.Sementara Malaikat yang Mencintai Senja adalah cerita tentang penebusan dosa seorang malaikat yang tengah menjalani hukuman di Bumi. Lelaki yang Terperangkap dalam Prangko justru muncul lebih revolusioner dengan plot unik plus riuh fantasi.

Bamby juga terlihat semangat dalam mengeksplor nuansa kematian. Semisal Pak Sorbirin Guru Mengaji, Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang, Tentang Mayat yang Sedang Tersenyum, serta Angka Sepuluh yang seolah membingkai kematian dengan makna kontemplasi tinimbang cucuran air mata bertubi-tubi. Kegelisahan terhadap budaya korupsi nan kelam di Indonesia juga dicuatkan oleh Bamby dalam cerpen Angka Sepuluh, Obsesi serta Lelaki Abu-Abu yang Membantu.

Barangkali Obsesi adalah satu-satunya cerpen yang paling satir dalam kumpulannya kali ini. Kisahnya justru mengingatkan kita terhadap nasib seorang mantan Menteri Keuangan yang karirnya kini melesat di kancah Internasional. Angka Sepuluh justru sangat memikat dari segi plot dan bumbu-bumbu sensual yang menggelitik. Sementara Lelaki Abu-Abu yang Membantu justru penuh pernak-pernik absurd yang hebatnya tak melunturi kesatiran cerita. Energi absurd juga terasa pekat dalam alur cerpen semacam Sebongkah Es yang Merindu.

Sayang, Bamby nampaknya gagal memberikan impresi menarik melalui cerpen Boneka Menangis yang ditempatkannya sebagai cerpen pertama dalam kumpulan Kisah Muram di Restoran Cepat Saji. Alur ceritanya amat lemah, miskin diksi serba keteteran dan mudah ditebak. Untungnya 14 karya berikutnya sangat nikmat disantap bak masakan yang kaya letupan rempah tanpa diolah a la cepat saji.

 

======================================================

Judul Buku          : Kisah Muram di Restoran Cepat Saji

Penulis                 : Bamby Cahyadi

Penerbit              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit       : 2012

Jumlah Halaman : 160 halaman